← Kembali ke Dashboard
//
Detail Berita
Klik untuk Perbesar
Sinergi Prodi Sistem Informasi Universitas Sulawesi Barat dengan Telkom University Bandung dan Desa Ulidang: Wujudkan "Smart Farming" untuk Optimalkan Potensi Petani Cabai
MAJENE, 21 MEI 2026 – Sektor pertanian di Desa Ulidang, Majene, bersiap memasuki era digitalisasi. Melalui pertemuan koordinasi perdana yang digelar secara daring pada Kamis (21/5/2026), Program Studi Sistem Informasi dan Telkom University Bandung(Tel-U) bersinergi dengan Universitas Sulawesi Barat resmi mengawali program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk "Smart Farming". Rapat virtual ini diselenggarakan sebagai langkah krusial untuk menyamakan persepsi antara tim akademisi kolaboratif dan aparatur desa mengenai teknis pelaksanaan pengabdian di lapangan.
Fokus utama dari program inovasi ini berpusat pada akurasi pengukuran pH tanah, suhu, serta pemantauan unsur hara tanah demi meningkatkan efisiensi pertanian lokal. Langkah kolaboratif ini menyasar sektor agrikultur Desa Ulidang yang didominasi oleh komoditas cabai. Secara demografis, mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani cabai dengan estimasi sedikitnya 40 petani produktif, di mana satu orang petani mampu menghasilkan hingga 5 ton cabai dalam satu kali panen raya. Melalui potensi yang masif tersebut, program Smart Farming hadir untuk memberikan wawasan baru bagi para petani mengenai pentingnya integrasi teknologi modern guna mengoptimalkan hasil bumi mereka.
Inovasi ini juga dirancang sebagai jawaban langsung atas aspirasi Kepala Desa Ulidang terkait krusialnya penanganan risiko overdosis pupuk yang kerap merusak kualitas tanaman. Menanggapi tantangan tersebut, tim pengabdian menyiapkan instrumen teknologi tepat guna sebagai solusinya. Mengingat arsitektur sistem pendeteksi yang dirancang memiliki kompleksitas yang cukup tinggi, tim akademisi menggarisbawahi bahwa perangkat yang akan diaplikasikan dalam waktu dekat ini masih berstatus sebagai prototipe.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak juga secara transparan memetakan sejumlah tantangan logistik dan teknis di lapangan, seperti jarak geografis yang cukup jauh antara kampus utama di Bandung dan desa mitra di Majene. Berdasarkan hasil koordinasi, keinginan pihak desa untuk segera melaksanakan aksi pemupukan massal dinyatakan belum memungkinkan untuk direalisasikan pada fase awal ini. Selain itu, kondisi infrastruktur pengairan saat ini juga belum memadai untuk diintegrasikan secara penuh, namun tim peneliti tengah mengondisikan rancangan alat bantu perairan alternatif agar kebutuhan irigasi tersebut dapat diatasi pada tahapan pengembangan selanjutnya.
Mengenai linimasa pengerjaan, tim pengabdian mengupayakan agar fase pengaplikasian prototipe ini dapat dieksekusi secepatnya dan diusahakan tidak melompat hingga bulan Juli mendatang. Kendati demikian, jadwal implementasi ini bersifat fleksibel; apabila proses adaptasi teknologi di lapangan tidak berjalan sesuai harapan, maka jadwal dapat diundur demi memastikan fungsionalitas alat bekerja secara optimal. Sebagai penutup koordinasi perdana ini, Pemerintah Desa Ulidang menyambut baik komitmen Telkom University dan Universitas Sulawesi Barat, serta menaruh harapan besar agar proyek ini memiliki kelanjutan yang berkesinambungan sehingga mampu menjadi solusi permanen dalam mendongkrak produktivitas dan taraf ekonomi para petani cabai di Desa Ulidang.
Fokus utama dari program inovasi ini berpusat pada akurasi pengukuran pH tanah, suhu, serta pemantauan unsur hara tanah demi meningkatkan efisiensi pertanian lokal. Langkah kolaboratif ini menyasar sektor agrikultur Desa Ulidang yang didominasi oleh komoditas cabai. Secara demografis, mayoritas penduduk desa berprofesi sebagai petani cabai dengan estimasi sedikitnya 40 petani produktif, di mana satu orang petani mampu menghasilkan hingga 5 ton cabai dalam satu kali panen raya. Melalui potensi yang masif tersebut, program Smart Farming hadir untuk memberikan wawasan baru bagi para petani mengenai pentingnya integrasi teknologi modern guna mengoptimalkan hasil bumi mereka.
Inovasi ini juga dirancang sebagai jawaban langsung atas aspirasi Kepala Desa Ulidang terkait krusialnya penanganan risiko overdosis pupuk yang kerap merusak kualitas tanaman. Menanggapi tantangan tersebut, tim pengabdian menyiapkan instrumen teknologi tepat guna sebagai solusinya. Mengingat arsitektur sistem pendeteksi yang dirancang memiliki kompleksitas yang cukup tinggi, tim akademisi menggarisbawahi bahwa perangkat yang akan diaplikasikan dalam waktu dekat ini masih berstatus sebagai prototipe.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak juga secara transparan memetakan sejumlah tantangan logistik dan teknis di lapangan, seperti jarak geografis yang cukup jauh antara kampus utama di Bandung dan desa mitra di Majene. Berdasarkan hasil koordinasi, keinginan pihak desa untuk segera melaksanakan aksi pemupukan massal dinyatakan belum memungkinkan untuk direalisasikan pada fase awal ini. Selain itu, kondisi infrastruktur pengairan saat ini juga belum memadai untuk diintegrasikan secara penuh, namun tim peneliti tengah mengondisikan rancangan alat bantu perairan alternatif agar kebutuhan irigasi tersebut dapat diatasi pada tahapan pengembangan selanjutnya.
Mengenai linimasa pengerjaan, tim pengabdian mengupayakan agar fase pengaplikasian prototipe ini dapat dieksekusi secepatnya dan diusahakan tidak melompat hingga bulan Juli mendatang. Kendati demikian, jadwal implementasi ini bersifat fleksibel; apabila proses adaptasi teknologi di lapangan tidak berjalan sesuai harapan, maka jadwal dapat diundur demi memastikan fungsionalitas alat bekerja secara optimal. Sebagai penutup koordinasi perdana ini, Pemerintah Desa Ulidang menyambut baik komitmen Telkom University dan Universitas Sulawesi Barat, serta menaruh harapan besar agar proyek ini memiliki kelanjutan yang berkesinambungan sehingga mampu menjadi solusi permanen dalam mendongkrak produktivitas dan taraf ekonomi para petani cabai di Desa Ulidang.